Translate

Selasa, 18 Oktober 2011

indahnya senyummu

Senyum adalah satu kata penuh makna...
Senyum ungkapan jiwa seseorang...
Dengan sebuah senyuman segalanya menjadi indah...
Namun...
Seringkali senyum itu menyakitkan...
Senyum eank di dalamnya penuh kebusukan..
Hanya akan embawa derita//

senyum eank tulus membawa bahagia..
senyumlah selalu untuk orang di sekitarmu..

Minggu, 16 Oktober 2011

Pentingnya Pengenalan Pendidikan Agama Islam Sejak Kecil


  1. Pendahuluan
Deawasa-dewasa ini banyak anak kecil yang lebih familiar dengan barang-barang elektronik ketimbang dengan ayat-ayat suci Al-Qurán. Mereka telah terhipnotis dengan barang-barang yang dapat merusak kepribadian mereka. Seperti contohnya televisi, hand phone, dan lain-lain. Mereka lebih gemar menggunakan barang-barang tersebut.  Menghabiskan waktunya dengan menonton TV atau bermain game, sampai terkadang lupa makan, bahkan belajar atau pun sholat.
Intensitas anak-anak yang mengerti akan game dengan pendidikan agama seperti sholat lebih tinggi. Pada saat ini sudah jarang terlihat lagi anak-anak yang mau pergi ke masjid. Kebanyakan dari mereka lebih asyik bermain atau menonton TV. Untuk belajar aja susah, apalagi belajar tentang agama. Hal seperti bukanlah hal baru, terus di mana peran orang tua mereka, apalagi jika kedua orang tuanya sibuk bekerja dan mereka hanya tinggal bersama suster atau pembantu rumah tangga. Masa kanak-kanak lah yang akan menentukan nasib mereka di kemudian hari.
Sebagai orang tua sudah sepatutnya memahami kegiatan anak-anaknya. Mereka tidak boleh melepaskan anaknya begitu saja dengan dalih sudah menyekolahkan anaknya atau sudah mengundang guru agama untuk mengajari anaknya mengaji. Hal-hal tersebut tidak akan efektif tanpa adanya pengawasan dari orang tua itu sendiri. Anak tidak akan maju tanpa adanya bimbingan orang tua. Namun, bimbingan yang seperti apa yang dibutuhkan oleh si anak dan bagaimana metode-metode yang cocok dalam mengajari si anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah perlu untuk diketahui oleh orang tua.

  1. Rumusan Masalah
Dari pendahuluan di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Apa pengertian pendidikan agama Islam?
  2. Bagaimana pendidikan keluarga terhadap anak?
  3. Bagaimana tinjauan dari psikologi anak?
  4. Sebagaimana penting pendidikan agama untuk anak sejak kecil?
  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.[1]
Sedangkan menurut para ahli pendidikan memberikan definisi sebagai berikut:
1.      Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut aturan-aturan Islam.[2]
2.      Menurut Muhaimin, pendidikan Agama Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[3]
Dari definisi-definisi yang ada, inti  dari pendidikan agama Islam adalah mengubah tingkah laku seseorang dengan bimbingan-bimbingan baik jasmani maupun rohani agar orang tersebut dapat memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bernasyarakat, berbangsa dan bernegara.[4] Di sini seseorang diharapkan menjadi pribadi yang sesuai dengan ajaran Allah dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apabila sejak kecil anak-anak sudah dididik sesuai dengan ajaran Islam atau minimal sudah mengenal apa saja ajaran yang terdapat di dalam Islam, selanjutnya mereka akan terbiasa melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan agama.
  1. Pendidikan Keluarga
Keluarga adalah ikatan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan hukum dan undang-undang perkawinan yang sah. Dalam keluarga inilah akan terjadi interaksi pendidikan yang pertama dan utama bagi anak yang akan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjunya.[5] Oleh karena itu, keluargalah yang memegang peranan utama dan memegang tanggung jawab terhahap pendidikan anak. Dalam pendidikan keluarga, pemberian kasih sayang janganlah terlalu berlebihan ataupun terlalu kurang. Keluarga harus pandai dan tetap dalam memberikan kasih sayang terhadap anaknya.
Pendidikan keluarga yang baik adalah yang mau memberikan dorongan kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan agama. Pendidikan agama dalam keluarga memiliki pengaruh yang sngat penting untuk mendidik anak.[6] Pendidikan keluarga juga harus mengarahkan anaknya untuk menuntuk ilmu yang benar karena ilmu yang benar dapat membawa anak ke jalan yang benar dan amal yang shaleh. Anak tidak akan mudah terjerumus ka dalam hal-hal yang tidak baik atau dilarang agama, karena dalam kehidupannya sehari-hari ia telah dididik untuk mengamalkan ajaran agama.
Pendidikan keluarga harusnya mampu mengajak ke semua aqnggota untuk bersikap hormat kepada anggota yang lainnya dengan berlandaskan keagamaan, sehingga akan timbul sifat saling melengkapi antar anggota keluarga. Anak akan mudah mengembangkan potensinya, dikarenakan adanya dukunagan dari kalangan keluarga. Dalam keluarga hendaknya dapat merealisasikan tujuan pendidikan Agama yang benar, hal tersebut adalah tugas orang tua.
Adapun bebrapa aspek penting harus diberikan dan diperhatikan oleh orang tua, diantaranya:
a.       Pendidikan Ibadah
Aspek ini dikhususkan pada pendidikan sholat sesuai dengan firman Allah dalam surat Luqman, ayat 17:
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”

Ayat tersebut menjelaskan pentingnya pendidikan shalat sejak kecil.
b.      Pokok-pokok Ajaran Islam dan membaca Al-Qur’an
Pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an serta pokok-pokok ajaran Islam yang alin terdapat di dalam hadits yang artinya, “sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan kemudian mengajarkannya,” (H.R. Al-Baihaqi)[7]. Dari hadits tersebut dapat diketahui kalau belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah hal yang baik, tentunya itu juga baik buat pengajaran pendidikan kepada anak. Anak terlebih dahulu dikenalkan dengan ajaran-ajaran Islam.
Bagi orang tua, membimbing dan mengasuh anaknya harus berdasarkan nilai-nilai ketauhidan yang diperintahkan oleh Allah. Karena tauhid adalah akidah yang bersifat universal, maksudnya akidah yang mengarahkan seluruh aspek kehidupan dan tidak mengkotak-kotakkan. Seluruh aspek kehidupan manusia hanya dipandu oleh oleh satu kekuatan yaitu tauhid.[8] Dalam memberikan pendidikan kepada anak, haruslah disertai dengan contoh-contoh yang konkret agar si anak dapat mudah memahaminya, seperti tutur kata orang tua yang harus dijaga serta perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang tua juga.
c.       Pendidikan akhlaqul karimah
Pendidikan akhlaqul karimah amat penting untuk diberikan orang tua kepada anak-anaknya, sesuai dengan firman Allah dalam surat Luqman, ayat 14:
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ  
dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tekanan utama pendidikan keluarga dalam pendidikan islam adalah pendidikan akhlak dengan melatih anak untuk senantiyasa berbuat baik, menghormati orang tua, bertutur kata yang sopan lagi baik.
d.      Pendidikan akidah
Pendidikan Islam dalam keluarga harus memperhatikan pendidikan akidah Islamiyah, di mana akidah itu adlah inti dari dasar keimanan seseorang yang harus ditanamkan sejak dini, sesuai dengan surat Luqman ayat 13,
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ  
dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Ayat tersebut menerangkan bahwa akidah harus ditanamkan kepada anak sejak kecil yang merupakan dasar pedoman hidup. Pendidikan agama dalam keluarga hendaknya dikembalikan kepada pola pendidikan yang dilaksanakan Luqman dan anak-anaknya.

  1. Tinjauan Psikologi anak
Dalam perkembangannya anak-anak memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dalam hal kepribadian. Bagi orang tua memahami kepribadian anaknya adalah hal yang harus dilakukan jika ingin sukses menjadi orang tua yang baik. Tipe kepribadian seseorang sendiri bermacam-macam, seperti tipe sanguin, flegmatik, melankolik, kolerik, dan asertif.
1.      Tipe Sanguin
Untuk tipe sanguine ciri-cirinya antara lain: memiliki banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat lingkungannya gembira dan senang. Kelemahannya cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya.[9] Bagi orang tua yang memiliki anak yang berkepribadian seperti ini harus lebih cenderung meningkatkan perkembangan moral kognitifnya, mereka lebih sering menggunakan pikirannya daripada perasaannya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mudah terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya, untuk itu peran orang tua dalam membimbingnya sangat diperlukan.
Dalam mengahadapi anak yang bertipe ini, orang tua harus selalu menunjukan rasa persahabatan dan keramahan, agar si anak dapat bercerita mengenai diri mereka, pengalaman mereka, dan perasaan mereka.
2.      Tipe Flegmatik
Tipe flegmatik merupakan tipe kepribadian yang bercirikan sebagai berikut, cenderung tenang, gejolak emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih atau senang, sehingga turun naik emosinya tidak terlihat jelas.[10] Dalam menghadapi orang berkarakter seperti ini orang tua harus lebih mengarahkan anaknya dalam meningkatkan pertimbangan moral guna peningkatan kasih sayang, sehingga ia mampu menjadi orang yang lebih bermurah hati. Sebenarnya tipe seperti ini cenderung merupakan orang yang mampu melakukan intropeksi diri, orang tua hanya perlu mengarahkannya saja.
3.      Tipe Melankolik
Tipe melankolik bercirikan sebagai berikut, terobsesi dengan karyanya yang paling bagus atau paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat, dan sangat sensitif.[11] Dalam menghadapi tipe seperti ini, orang tua hendaknya membantu meningkatkan pertimbangan moralnya agar kekuatan emosinya dapat berkembang sejalan dengan perkembangan moral kognitifnya. Orang tua harus berusaha mendukung keinginginannya yang tentunya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan agama Islam.
4.      Tipe Kolerik
Tipe kolerik merupakan tipe yang memiliki ciri sebagai berikut: cenderung berorientasi pada tugas dan pekerjaan, memiliki disiplin kerja yang tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab atas tugas yang diembannya.[12] Kelemahan otang bertipe seperti ini adalah kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kuang mampu mengembangkan rasa kasihan kepada otang yang sedang menderita, dan perasaannya kurang bermain. Orang tua yang memiliki anak seperti ini harus mampu meningkatkan perkembangan emosionalnya agar seimbang dengan moral kofnitifnya.
5.      Tipe Asertif
Ciri dari orang yang bertipe seperti ini antara lain: mampu menyatakan pendapat atau ide, dan gagasannya secara tegas dan kritis tetapi persaaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Perilaku mereka adalah berjuang mempertahankan hak sendiri tetapi tidak mengabaikan atau mengancam hak orang lain; melibatkan perasaan dan kepercayaan orang lain sebagai bagian dari interaksi dengan mereka.[13] Tipe ini sangat ideal, sehingga tidak banyak diremukan kelemahannya.
Kepribadian adalah khas bagi setiap pribadi, sedangkan gaya kepribadian bisa dimiliki orang lain yang juga menunjukkan kombinasi yang berulang-ulang secara khas dan dinamis dari ciri pembawaan dan pola kelakuan yang sama. Bagi orang tua memahami kepribadian anaknya adalah hal yang penting, dikarenakan apabila orang tua telah memahami tipe kepribadian ankanya dan juga memahami tipe kribadian masing-masing, ini akan lebih mudah untuk membantu menentukan pemberian pendidikan yang sesuai kepada anak. Sehingga anak akan lebih mudah menerimanya.

  1. Pentingnya Pengenalan Pendidikan Agama Islam Sejak kecil
Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat dari Allah Swt kepada orang tua yang harus dijaga dan dididik sebaik mungkin, karena kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Peran keluarga dalam perkembangan anak sangatlah berkaitan, bahkan kebiasaan anak adalah cermin dari kebiasaan orang tua mereka. Semua yang orang tua lakukan setiap hari akan mempengaruhi perkembangan anak yang pada akhirnya menimbulkan kebiasaan, entah itu baik ataupun buruk. Kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah wujud dari pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua mereka.
Sebagai bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya merupakan makhluk uynag tidak berdaya, namun ia dibekali oleh berbagai kemampuan yang bersifat bawaan. Menurut Clark yang dikutip oleh Jalaluddin bahwa perkembangan bayi tidak mungkin dapat berlangsung secara normal tanpa adanya intervensi dari luar, walaupun secara alami ia memiliki potensi bawaan.[14] Itu artinya bahwa bayi yang lahir tetap membutuhkan bimbingan dari orang yang ada di sekitarnya yakni keluarga, meskipun sebenarnya ia memiliki kemampuan bawaan. Kemampuan tersebut tidak akan berkembang secara normal tanpa adanya pengawasan dan bimbingan dari orang tua mereka.
Anak adalah buah hati orang tuanya, merawat, membimbing adalah kewajiban orang tua mereka. Begitu juga mengenalkan agama sejak ia kecil, bahkan sejak si anak dilahirkan ke dunia ini. Peran orang tua dalam mengenalkan agama kepada anaknya amat besar. Dalam hal ini, anak dididik untuk mulai mengenal Tuhannya dan mengerti ajaran-ajarannya. Diharapkan jika sejak kecil si anak sudah mulai mengenal Allah dan mengerti rukun-rukun yang ada dalam Islam, pastinya hal tersebut mampu mengarahkan anak untuk tetap berada di jalan yang lurus karena sejak kecil telah terbiasa dengan urusan agama.
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama. Di sana anak-anak mulai mulai mengenal kehidupan yang sebenarnya. Orang tua sebenarnya adalah pendidik yang kodrati,[15] karena sampai kapanpun mereka akan mengajarkan pendidikan yang baik untuk anak mereka. Adanya kasih sayang terhadap anak akan senantiyasa membuat orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk anak mereka, begitu juga dalam hal pendidikan.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai orang tua yang salah bertindak dalam menghadapi anaknya. Tindakan mereka terkadang malah menyimpang dari apa sebenarnya tujuan yang hendak dicapai orang tua dalam mendidik anaknya. Tindakan-tindakan tersebut pada akhirnya dapat mengakibatkan cekcok atau perang mulut dalam keluarga.[16] Sungguh tidak menyenangkan jika hal itu terjadi setiap kali anak melakukan kesalahan. Peran orang tua adalah meluruskan perbuatan anaknya yang salah dan memantaunya agar tidak terulang kembali.
Kewajiban mendidik si anak rupanya dapat dilaksanakan dengan mudah karena Tuhan telah menciptakan landasannya, yaitu adanya rasa cita dari orang tua terhadap anaknya yang merupakan salah satu fitrahnya. Rasa cinta kasih tersebut dapat dilihat dalam surat Al-Kahfi ayat 46, “Harta dan anak-anak itu merupakan suatu perhiasan kehidupan dunia”.[17]
Dalam mendidik anaknya orang tua juga harus memperhatikan pribadi si anak seperti apa agar tidak terjadi pemaksaan dari orang tua yang dapat menimbulkan pemberontakan dari si anak. Orang tua dapat memilih metode-metode pendidikan dari orang tua kepada anak yang kiranya cocok dengan mereka dan si anak. Diharapkan dengan metode yang pas akan meningkatkan hubungan keharmonisan antara orang tua dan anak, sehingga dalam proses pembelajaran si anak tidak terjadi kejenuhan yang berarti.
Pendidikan agama islam itu sendiri lebih mengarah kepada pembiasaan penerapan rukun-rukun islam maupun islam dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya shalat fardhu, jika si anak rajin melakukan shalat fardhu sejak kecil tentunya jika ia beranjak dewasa, shalat yang telah menjadi kebiasaannya akan tetap ia lakukan karena dianggap sudah mendarah daging, begitu juga dengan rukun-rukun yang lain.
Sebagai orang tua dalam mendidik anaknya perlu memberuikan bimbingan kepada anaknya agar mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua . Pertama, membantu anak-anak memahami posisi dan peranannya masing-masing sesuai dengan jenis kelaminnya, agar saling menghormati dan saling tolong menolong dalam melaksanakan perbuatan yang baik dan dirodhoi oleh Allah. Kedua, membantu anak-anak untuk mengenal dan memahami nilai-nilai yang mengatur kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat dan mampu melaksanakannya untuk memperoleh ridho Allah.
Ketiga, mendorong anak-anak untuk mencari ilmu dunia dan ilmu agama, agar mampu merealisasikan dirinya sebagai satu diri (individu) dan sebagai anggota masyarakat yang beriman.[18] Anak harus diarahkan agar dalam mencari ilmu agama dan ilmu dunia harus seimbang, sesuai dengan kebutuhan mereka. Keempat, membantu anak-anak memasuki kehidupan bermasyarakat setahap demi setahap melepaskan diri dari ketergantungan kepada orang tua dan orang dewasa lainnya, serta mampu mempertanggungjawabkan sendiri atas sikap dan perilakunya.
Kelima, membantu dan memberi kesempatan serta mendorong anak-anak mengerjakan sendiri dan berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan, di dalam keluarga dan masyarakat, untuk memperoleh pengalaman sendiri secara langsung sebagai upaya peningkatan iman dan penyebarluasan syiar Islam.[19] Dengan ini anak akan mampu berpartisipasi dalam kegiatan di amsyarakat. Mereka akan mulai memahami dan mengerti apa yang sebenarnya harus mereka lakukan.
Terkadang maslah yang dihadapi antara anak yang satu dengan yang alinnya berbeda, tentunya peran orang tua dalam membantu memberikan penyelesaian amat diperlukan agar anak dapat terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat dan benar. Orang tua harus selalu mengawasi anak mereka agar tidak salah malakukan sesuati, jikalau ada yang salah, orang tua dapat meluruskannya.
Dengan demikian, anak yang dididik dengan baik oleh orang tuanya dalam hal pendidikan agama akan memberikan banyaka manfaat baik bagi dirinya sendiri amupun bagi keluarga dan lingkungannya. Anak senantiyasa dapat berjalan di jalan yang lurus sesuai dengan ajaran Allah dan tentunya semua itu adalah dambaan dari semua otang tua terhadap mereka masing-masing. Orang tua juga akan ikut bangga jika anaknya dapat sukses dalam hal agamanya, itu berkat didikan dari orang tua.



[1] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008) hlm. 15.
[2] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009) hlm. 328.
[3] Ibid.
[4] Ramayulis., op. cit. hlm. 22
[5] Mansur., op. cit. hlm. 318.
[6] Ibid., hlm. 319.
[7] Ibid., hlm. 322.
[8] Ibid hlm. 323.
[9] Sjarkawi, op. cit., hlm. 11.
[10] Ibid., hlm. 11-12.
[11] Ibid., hlm. 12.
[12] Ibid., hlm. 12.
[13] Ibid., hlm. 12-13.
[14] Mansur., Op. Cit., hlm. 337.
[15] Ibid., hlm. 338.
[16] Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan Perkembangan Anak, (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1986), hlm. 9
[17] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 135.
[18] Mansur., op. cit. hlm. 349.
[19] Ibid., hlm. 349-350